Jessie: Anjing Paling Manis di Dunia

April 29th, 2008 by andinikecil

Jessie adalah anjing termanis di dunia.

Sebagai Golden Retriever tubuhnya lebih berisi dari yang lainnya. Menurut sejarah medis ia memiliki kelainan jantung dan oleh karena itu (dan juga usia) Jessie tak selincah Max yang Rotweiller dan masih muda. Max sayang Jessie dan Jessie kadang terlalu malas untuk menanggapi Max yang selalu mengajaknya bermain.

Jessie suka tidur. Biasanya ia hanya berdiri untuk makan, minum atau ke luar untuk menjawab “panggilan alam”. Aku dan Mba Noni pernah menemani Jessie poop sore. Saat itu sedang hujan dan Jessie sudah tak mungkin lagi menahan poop-nya. Aku dan Mba Noni menemani Jessie sambil payungan. Jessie memilih poop di depan rumah orang yang berada jauh dari rumah Mba Noni. Jauh, dan hujan mulai turun lebih deras. Kami basah, Jessie juga basah, tetapi sangat bahagia. Sia-sia dia masuk salon hari itu. Setelah itu Jessie tidur lagi. Dengan badannya yang besar dan bulunya yang panjang Jessie terlihat bagai karpet yang empuk.

Jessie selalu ingin berada di dekat orang. Jessie suka menemani Mas Rey dan Mba Noni bekerja. Ia selalu ingin masuk ke dalam ruangan kerja mereka, sambil ngadem karena ada AC. Jessie suka pipis di taman belakang. Kalau kita sedang nongkrong di sana, bau pesingnya semriwing dan Mba Noni akan menyemprotkan pengharum supaya kita tidak pingsan.

Jessie kalau makan berantakan. Tikus-tikus di rumah Mba Noni dan Mas Rey jadi gemuk serta berbulu bagus karena ikut makan makanan Jessie yang tercecer.

Jessie suka disayang-sayang. Kalau kita berhenti mengelusnya atau pergi meninggalkannya ke ruang TV, dia akan mengikuti dan membuat tangan kita kembali mengelusnya. Dia akan memperhatikan kita dengan mata bulatnya yang besar dan membuat kita tak bisa marah padanya.

Jessie anjing yang sangat istimewa, bukan hanya karena ia adalah anjing termanis di dunia, tetapi juga karena ia membuatmu ingin tersenyum dan menyayanginya sepenuh hati.

Selamat jalan, Jessie. We’ll miss you so much.

- In the memory of Jessie 290408-

Bookmark and Share

My Stupid Mouth

April 19th, 2008 by andinikecil

Hari ini aku kembali menanggung akibat dari ketololan diri sendiri.
Bicara tanpa dipikir adalah kelemahan yang selalu membuatku terjebak masalah.
Sekarang aku hanya bisa menyesalinya.
Berharap bisa menarik kata-kata itu kembali atau mengucapkan begitu banyak kata-kata lain daripada yang aku katakan tadi.
Aku sungguh-sungguh berharap aku bisa mengulang kembali kejadian tadi.
Berharap aku berpikir sedetik lebih lama.
Berharap aku tidak selalu mengatakan hal pertama yang terlintas di kepalaku.
Aku menyesal, sungguh-sungguh menyesal…
Andai aku bisa menarik kembali kata-kata yang sudah terlanjur kukeluarkan, pasti akan kulakukan…
Aku minta maaf.. Sungguh-sungguh minta maaf…

Bookmark and Share

Sosialita

April 18th, 2008 by andinikecil

Sebenarnya post ini tidak terlalu penting. Tetapi saya tidak ingin melupakan suatu kejadian di jam 12 tadi siang.

Seorang sahabat sejak jaman SMU dulu tiba-tiba menelpon. Aneh karena biasanya di hari kerja dia akan sibuk dengan kantornya. Ternyata hari ini dia diliburkan dan rumahnya mati lampu dan dia malas ke salon dan dia tidak ada kerjaan dan akhirnya dia menelpon saya yang pasti-pasti di rumah juga. Sialan. Ya whatever lah. Akhirnya kami ngobrol panjang. Dia sih sebenarnya yang lebih banyak ngomong. Bawel banget memang. Dan ajaib! Hahaha.. *sorry dear, but you know you are amazingly strange*

Anyway, di tengah obrolan tentang PLN, pindah kerjaan dan laki-laki, dia tiba-tiba ngomong (dan anak ini sering sekali berpindah topik pembicaraan seenak udelnya), “Loe tahu gak sih? Gue tuh dari kecil bercita-cita jadi sosialita dan masuk Majalah Dewi.” Dan saya hanya bisa tertawa ngakak sejadi-jadinya sambil mengingatkannya untuk membeli tas LV dan Bottega Veneta. Dia menjawab, “Udah punya gue, booo. Dari tante gue! Biar KW tapi gak ketahuan. Yang penting pede bawanya, entar juga orang percaya kalo itu asli.” Hahahahahaha…

Aah.. Betapa cocoknya kami berdua.. Hahahahaha…

Bookmark and Share

Tentang Memilih

April 2nd, 2008 by andinikecil

Dulu (dan ini sudah menjadi cerita yang diulang ibu saya berulang-ulang kali) saya adalah anak yang tidak bisa memilih. Ketika ada dua pilihan di depan mata, seperti misalnya, apakah saya mau main sepeda bersama teman-teman atau ikut pergi bersama ibu, maka saya (dan ibu) bisa menghabiskan minimal 15 menit hanya untuk, “Aku pingin main sepeda, tapi gak mau ditinggal ibu.” Ibu akan menjawab, “Ya udah, ayo ikut ibu.” Karena merasa bukan itu yang benar-benar saya inginkan, maka saya akan menjawab, “Aku pingin ikut pergi, cuma nanti aku bosen kalo ibu belanja.” Dan ibu dengan santai akan menjawab, “Ya udah, sana main sepeda sama temen-temen.” Dan saya akan mengatakan “tapi” berulang-ulang kali karena tak kunjung bisa memutuskan mana yang saya inginkan. Hebatnya, ibu tak pernah sekalipun (ini benar-benar terjadi, sumpah) kehilangan kesabaran dan terus saja menjawab argumen saya dengan jawaban yang berlain-lainan sesuai apa yang saya katakan. Kesal karena ibu tak kunjung membantu untuk membuat pilihan (atau menentukan pilihan yang terbaik untuk saya), akhirnya saya memutuskan untuk memilih yang paling membuat senang, dengan pertimbangan-pertimbangan seorang anak kecil. Saya kemudian main sepeda.

Setelah saya pikir-pikir, ibu tidak pernah mengambil keputusan apapun untuk saya. Kecuali memang untuk hal-hal yang belum menjadi hak saya. Waktu kecil, saya tak mau pakai rok. Saya bahkan tak punya rok. Ketika tante-tante saya membelikan rok-rok warna pink dengan renda-renda, saya akan mendiamkannya di dalam lemari hingga lupa. Ibu bukannya tak ingin saya kelihatan seperti anak perempuan lainnya, ia hanya percaya bahwa saya berhak memilih baju apa yang mau saya pakai. Kecuali saat lebaran (dan ada acara keluarga besar-besaran di keluarga bapak) maka ibu akan angkat suara dan untuk sekali dalam setahun menjadi sosok otoriter yang memaksa saya untuk memakai rok. Hanya sekali setahun.

Berkat pelatihan dalam membuat pilihan yang dilakukan ibu sejak masuk TK, maka saya jadi tahu bahwa yang berhak mengambil keputusan dalam hidup saya ya hanya saya. Itu menjadi hak dan privilege, asal saya memenuhi kewajiban-kewajiban sebagai seorang anak. That simple. Dan pemenuhan kewajiban itu pun saya lakukan karena diri sendiri. Kalau saya bebas memakai hak yang dimiliki, maka kewajiban harus terlebih dahulu dipenuhi. Itu soal menjaga keseimbangan.

Saya berhenti memakai teknik “TAPI” dan mulai menerapkan teknik “diam dan berpikir”. Bahkan soal perasaan. Saya percaya bahwa apa yang kita rasakan adalah tanggungjawab dan pilihan kita sendiri. Kalau saya merasa sedih, itu karena saya memilih untuk sedih. Saya berhenti berpikir bahwa orang lain memiliki kekuasaan untuk mengatur apa yang saya rasakan. Orang lain boleh mengambil pilihannya sendiri, dan bila itu berdampak pada hidup saya, maka saya boleh memilih untuk menghadapinya dengan seperti apa. Sedih, marah, kecewa, bahagia, lega, adalah hak dan pilihan saya. Bos galak, keluarga berantakan, pacar brengsek, angkot berhenti sembarangan, motor gak mau ngerem saat kita minta jalan, semua di luar kendali kita. Satu-satunya yang bisa kita kendalikan ya hanya diri sendiri.

Maka kalau hari ini ada angkot yang tiba-tiba berhenti sembarangan dan membuat saya harus ngerem mendadak, maka saya akan memilih untuk ambil kanan, menyusul, give him the finger dan tersenyum.

You are the choices you make. That I believe, wholeheartedly.

Bookmark and Share

Realita Jarak Jauuuhhhhh

March 15th, 2008 by andinikecil

Kok Idle di Messenger?

Padahal banyak yang mau ku bagi
Terutama rindu di hati
Aku rasa kamu ketiduran lagi
Seperti beruang madu yang lupa kalau sudah musim semi

Ah, sudah jam 3 pagi
Biar rindu jadi naskah mimpi
Semoga Tuhan masih beri pagi
Untukku, kamu dan matahari

-Andini Haryani 160308-

Bookmark and Share

Jason Castro

February 22nd, 2008 by andinikecil

I have a really huge crush!

On Jason Castro of American Idol 2008

This is actually embarassing

But I don’t really care

He’s gorgeous!!! And talented!

Bookmark and Share

Andini siapa?

February 18th, 2008 by andinikecil

Ternyata susah tinggal di kota besar kalau enggak punya kantor. Jadi begini, hari ini, dalam upaya (atau tepatnya keputusasaan) mencari lokasi untuk pemotretan, seharian gue nelfonin berbagai apartemen dan lounge di Jakarta. Anehnya, setiap kali si penerima telfon nanya ini dari mana, dan gue jawab dari Andini, mereka tidak mengatakan, "Baik Bu, saya sambungkan." On the other hand, mereka tetap bertanya dari mana (dengan nada terganggu karena gue cuma kasih satu nama)? Susahnya, gue bukan orang kantoran dan ternyata hanya jawaban "dari perusahaan X" saja yang diterima sebagai identitas seorang penelfon. Padahal pertanyaan "darimana" dalam kasus gue sebenarnya lebih tepat dijawab dari Solo atau Madiun, karena bokap nyokap gw orang Solo dan Madiun.

Jujur, gue merasa sedikit tersinggung dengan kebiasaan baru tata krama nelfon-menelfon ini. Gue mau nama gue tetap ada artinya bagi orang lain yang gue telfon. Jadi lain kali ini yang akan gue lakukan, karena gue tidak mau merasa inferior menjadi seorang freelancer:

Operator perusahaan X: Selamat siang, Perusahaan X.

Andini (A): Siang, bisa disambungkan dengan bagian promosi, mba?

Operator X: Dari mana ini, Bu?

A: Andini

Operator X: Andini dari mana?

A: Dari Andini (second attempt, siapa tahu yang kedua diterima. kalo engga juga maka….)

Operator X: Iyah, Andini dari mana?

A: Dari Haryani

Bookmark and Share

Mba Yuyun dan Pak Sheldon

February 6th, 2008 by andinikecil

Ini gara-gara abis nonton 4 Mata di Trans7. Topiknya tentang "Perjodohan". Bintang tamunya cukup banyak (seperti biasa), mulai dari bintang-bintang muda andalan persinetronan Indonesia, jomblowan dan jomblowati, sampe sepasang suami istri yang membuka biro jodoh karena mereka sendiri merupakan "hasil kerja" sebuah biro jodoh.

Sepasang suami istri ini langsung mendapatkan perhatian saya. Sampai enggan untuk mengganti ke channel lain loh! Ya sebenarnya sih emang males aja ganti-ganti channel, karena pasti ngelewatin Indosiar yang dari jam 6 sore tadi (sampe sekarang jam 23.30!!!) masih nayangin acara Supermama. Mungkin ini acara terpanjang yang ada di dunia yah? Selain acara award-award-an.

Anyway, kembali ke suami istri tadi. Tukul Arwana dengan cekatan memperkenalkan suami-istri ini untuk mengiringi entrance mereka ke setting 4 Mata. Si suami namanya bule beneeeuurr.. Sheldon sapa lah gtu. Nah, nyonya nya namanya Yuyun sapa lah gtu. Pas mereka keluar, memang langsung terlihat mereka sangat berbeda. Pertama (tentunya) beda ras. Kedua, beda umur. Bo, gw pikir itu kakeknya.

Okelah, cinta emang enggak pandang bulu. Who are we to judge kan? Mba Yuyun yang usianya 23 tahun nampak oke dengan dress merah, make up medok dan rambut panjang lurus ber-highlight yang terus-menerus dirapihkan dengan jari-jarinya setiap kali dia salah tingkah. Pak Sheldon yang 49 tahun lebih tua dari Mba Yuyun tampil rapih dengan kemeja dan dasi. Untung Mba Yuyun pakai baju warna merah, kalau putih bisa disangka susternya.

Anyway, acara 4 Mata tadi bisa dikategorikan sedikit lebih kacau dari biasanya. Seperti biasa, semua sepertinya memang dirancang mengikuti kengasalan si pembawa acara. Jadi enggak mungkin lah bintang tamu atau pemirsa berharap memberikan atau mendapatkan informasi yang tepat dan mencukupi. Nah, kali ini ditambah lagi dengan kendala bahasa. Harus diakui, episode tadi sangat kocak.

Mba Yuyun nampak sangat bahagia. Entah karena ia menikah dengan Pak Sheldon atau karena ia sedang tampil di 4 Mata. Satu yang pasti, beberapa kali ia menekankan "siapa saja bisa menikah dengan orang asing". Yang kemudian (tentu saja) segera disambut Tukul dengan komentar-komentar khas lawakan Indonesia, orang asing=orang planet.

Ternyata biro jodoh milik pasangan suami istri ini mengkhususkan pada pencarian suami bule atau pencarian istri asia. Paling tidak itulah garis besar bisnis mereka bila disimpulkan dari wawancara yang super ngasal itu. Lucunya, saya sempat berharap omongan si Pak Sheldon bisa diterjemahkan oleh Mba Yuyun, karena tentunya Tukul tak bisa diharapkan. Nah Mba Yuyun ternyata bahasa inggrisnya juga amat sangat terbatas. Walau dia terlihat super pede dengan kemampuannya. Jadi kacau lah semua. Lucu sih, tapi ya juga sangat sangat mengganggu.

Dalam satu kesempatan Tukul bertanya pada pasangan itu, "Apa saja kriteria yang dicari pria bule dalam mencari pasangan?" Pak Sheldon tentunya tidak "dong" tentang apa yang jadi pertanyaan. Mba Yuyun dengan polos kemudian berkata kepada Pak Sheldon, "You.. man, look Indonesia woman, what. Dark skin, beautiful. Feminine. Yes?" OK, mungkin kata-katanya tidak tepat seperti itu, hanya dibolak-balik aja sedikit, tetapi secara keseluruhan ya begitulah yang dikatakan Mba Yuyun sambil mesem-mesem dan main-mainin rambut. Pak Sheldon sempat kebingungan sampai dia menemukan satu kata yang bisa menjadi penerang dalam gulitanya. And when that "a-ha!" moment finally arrived, dan dia sudah siap dengan penjelasannya, Tukul malah meminta Mba Yuyun untuk menerjemahkan. (Wong bulenya belom ngomong apa-apa kok suruh nerjemahin) Alhasil yang keluar dari mulut Mba Yuyun cuma, "Iyahh.. Feminin. Yes?" sambil menengok ke Pak Sheldon. Seru….

Yang lebih kocak lagi adalah bagian akhir acara. Pas diminta memberikan alamat website atau email mereka keduanya gagal menyampaikannya dengan sempurna. Yang satu karena memang bingung sama cara mengatakan alamat website nya dalam bahasa inggris, yang satunya menguasai bahasa inggris tapi lupa sama alamat website nya sendiri. Dan Tukul (tentu saja) dengan sigap segera memotong kedua insan yang sedang kebingungan dengan alamat website mereka gara-gara sudah mendengar kata dot com keluar dari mulut si Pak Sheldon. Alhasil sampai akhir acara enggak ada yang tahu apa alamat website dari biro jodoh ini. 

Dan acara Supermama baru aja selesai di Indosiar.. Aaahh… TV kita memang luar biasa…

Bookmark and Share

Rasa….

January 30th, 2008 by andinikecil

Pengkhianatan Tempe

Ada berita aneh luar biasa di koran pagi ini
Siapa sangka?
Hari ini resmi sudah, tempe dan tahu jadi lauk mewah
Makanan rakyat yang tidak merakyat
Siapa sangka?
Ibu pertiwi tak hasilkan kedelai sendiri
Dan caci maki segera terpekik dalam demonstrasi
Siapa sangka?
Kenaikan beberapa ratus rupiah bisa bikin orang bunuh diri
Karena bukan hanya kedelai yang mengkhianati
Beras, pakan ternak dan minyak tanah juga memilih pergi
Sahabat rakyat tak lagi teraih
Siapa sangka?
Bukan beberapa ratus rupiah yang membuat orang bunuh diri
Karena ternyata, perasaan terlupakan lebih membuat sakit hati
Siapa sangka?

27 Januari 2008
Andini Haryani

Bookmark and Share

Rasa…

January 30th, 2008 by andinikecil

Salam untuk Bapa

Hanya sejenak di bumi bukan berarti tanpa arti
Tak butuh lebih dari sebuah jejak kaki
Untuk pastikan kau selalu di hati
Senyum, tawa dan air mata jadi warisan bagi ayah ibu tercinta
Berharap tak kan lagi ada tangis
Walau rindu akan selalu mengiris
Kisah di bumi mungkin selesai
Namun seperti yang pernah kau katakan
Dunia hanya taman bermain yang fana
Dan kini kau telah temukan yang sejati
Senyum, tawa dan tangis yang kau bagi
Jadi penawar sepi kini setelah kau telah pergi
Dan rindu pada sahabat tak bisa lagi dipungkiri
Selamat jalan, teman
Salamku untuk Bapa

7 September 2007
Andini Haryani
Untuk Carlo, sahabat adikku yang kini telah pulang ke rumah Bapa..

Bookmark and Share